Sepertinya saat ini masyarakat Palangkaraya sedang terkena demam bisnis. Bagaimana tidak, hampir semua pinggir jalan raya mulai dibangun ruko-ruko. Mulai dari yang ukuran 4 x12 m sampai level minimarket 8x12 m. Kabar baiknya, hingga detik terakhir tulisan ini dimuat, belum ada satupun pebisnis ritel dari manca yang menancapkan kaki taringnya di Kota berlabel Cantik ini. Maka bak jamur tumbuh dimusim hujan, berderet 'rumah nempel di toko' itu satu-peratu mulai berdiri. Mulai dari sekedar untuk buka kios pulsa dan hanphone, warung makan, salon kecantikan, laundry, bengkel motor, persewaan VCD dan DVD, game online dan warnet, rental buku, sampai untuk pusat kursus dan bimbingan belajar.
Sayangnya, jika perkembangan itu tidak terkendali, akan membuat masyarakat jenuh dengan berbagai macam bisnis itu. Pada akhirnya, para pelaku bisnis yang harus menanggung akibatnya. Oleh karena itu, perlu campur tangan pemerintah setempat dalam mengatur pertumbuhan ekonomi masyarakat. Meskipun saya yakin bahwa, untuk bisnis tingkat 'teri' ini tidak diperlukan adanya ijin dari kelurahan, apalagi dari pemda. Kecuali jika Anda berencana untuk bisnis batu permata, penambangan emas, bijih besi, atau batu bara. Termasuk juga jika Anda ingin masuk dalam 'pasar basah', minyak kelapa sawit.
Dari dua segmentasi kelas usaha yang ada di masyarakat tersebut, menjadi pilihan menarik bagi para calon pebisnis, untuk memilih bisnis apa yang paling cocok dengan 'jiwa'nya masing-masing. Tentu tidak semua orang terjun ke dunia bisnis hanya semata-mata mempertimbangkan faktor keuntungan belakan. Ada yang hanya sekedar mencoba, ajakan teman, atau bahkan karena kondisi yang memaksakan. Apapun motifnya, bagi saya pribadi yang terpenting adalah konsistensi untuk menjalankan bisnis yang telah dirancangnya. Tidak perlu banyak bicara, tapi yang penting bekerja. Mengerjakan apa yang direncanakan dan merencanakan apa yang akan dikerjakan. Itu barangkali prinsip pertama untuk menjadi pebisnis tangguh.