Jumat, 14 November 2008

Menjadi Pebisnis Tangguh

Sepertinya saat ini masyarakat Palangkaraya sedang terkena demam bisnis. Bagaimana tidak, hampir semua pinggir jalan raya mulai dibangun ruko-ruko. Mulai dari yang ukuran 4 x12 m sampai level minimarket 8x12 m. Kabar baiknya, hingga detik terakhir tulisan ini dimuat, belum ada satupun pebisnis ritel dari manca yang menancapkan kaki taringnya di Kota berlabel Cantik ini. Maka bak jamur tumbuh dimusim hujan, berderet 'rumah nempel di toko' itu satu-peratu mulai berdiri. Mulai dari sekedar untuk buka kios pulsa dan hanphone, warung makan, salon kecantikan, laundry, bengkel motor, persewaan VCD dan DVD, game online dan warnet, rental buku, sampai untuk pusat kursus dan bimbingan belajar.
Sayangnya, jika perkembangan itu tidak terkendali, akan membuat masyarakat jenuh dengan berbagai macam bisnis itu. Pada akhirnya, para pelaku bisnis yang harus menanggung akibatnya. Oleh karena itu, perlu campur tangan pemerintah setempat dalam mengatur pertumbuhan ekonomi masyarakat. Meskipun saya yakin bahwa, untuk bisnis tingkat 'teri' ini tidak diperlukan adanya ijin dari kelurahan, apalagi dari pemda. Kecuali jika Anda berencana untuk bisnis batu permata, penambangan emas, bijih besi, atau batu bara. Termasuk juga jika Anda ingin masuk dalam 'pasar basah', minyak kelapa sawit.
Dari dua segmentasi kelas usaha yang ada di masyarakat tersebut, menjadi pilihan menarik bagi para calon pebisnis, untuk memilih bisnis apa yang paling cocok dengan 'jiwa'nya masing-masing. Tentu tidak semua orang terjun ke dunia bisnis hanya semata-mata mempertimbangkan faktor keuntungan belakan. Ada yang hanya sekedar mencoba, ajakan teman, atau bahkan karena kondisi yang memaksakan. Apapun motifnya, bagi saya pribadi yang terpenting adalah konsistensi untuk menjalankan bisnis yang telah dirancangnya. Tidak perlu banyak bicara, tapi yang penting bekerja. Mengerjakan apa yang direncanakan dan merencanakan apa yang akan dikerjakan. Itu barangkali prinsip pertama untuk menjadi pebisnis tangguh.

Kamis, 11 September 2008

Memulai Bisnis

Bismillah... meski masih belum mantap, tapi langkah ini harus dimulai. Tidak harus terburu-buru. Tapi dengan perencanaan yang matang dan eksekusi yang terencana. Pelan tapi pasti, insyaAllah bila saatnya tiba nanti, akan datang juga barokah yang lama ditunggu.
Mohon doanya ya semua... :)

Sedikit bocoran saja, insyaAllah bisnis yang akan dimulai masih seputar dengan dunia anak-anak dan pendidikan. Gimana, ada ide dari kawan-kawan semua..? Masih terbuka kok :d

Yang Kaya untuk Sementara....













Bill Gates (Owner& founder Microsoft)



















Michael Dell (owner& founder DELL)





















Steve Job (owner& founder Apple)















Dhirubhai ambani
















Larry Ellison


Menurut majalah Forbes apabila kekayaan 6 orang ini dikumpulkan dan dibagi rata ke semua orang di seluruh negara maka tidak ada orang miskin di dunia ini

Luar biasa..

Sumber : http://www.salvayurivan.blogspot.com/ (thank for mas salva ats photo2nya ya :)

Rabu, 10 September 2008

Membangun Kepercayaan

Apa yang paling penting menurut Anda dalam bisnis? Modal, jaringan (networking) atau kepercayaan? Saya kira semua sepakat bahwa ketiganya sama-sama penting. Namun paling penting dari semua itu ialah kepercayaan. Betapa banyak pebisnis-pebisnis sukses yang membangun raksasa bisnisnya dari nol. Mereka dengan modal yang seadanya, namun toh akhirnya bisa memiliki kerajaan bisnis yang luar biasa besar. Itu semua berkat adanya kepercayaan dari berbagai investor ataupun relasi bisnisnya, meski melalui tahap demi tahap yang cukup melelahkan.
Ada yang mengatakan bahwa jaringan (networking) lebih penting dari semua. Namun apakah bisa jaringan itu terbentuk tanpa adanya kepercayaan? Coba dipikir ulang :d

Kamis, 14 Agustus 2008

Etika Bisnis Islam

Etika sebagai ajaran baik-buruk, benar-salah, atau ajaran tentang moral khususnya dalam perilaku dan tindakan-tindakan ekonomi, bersumber terutama dari ajaran agama. Itu sebabnya banyak ajaran dan paham dalam ekonomi Barat menunjuk pada kitab Injil (Bible), dan etika ekonomi Yahudi banyak menunjuk pada kitab Taurat. Demikian pula etika ekonomi Islam termuat lebih dari seperlima ayat-ayat al-Quran. Jika etika agama Kristen-Protestan telah melahirkan semangat (spirit) Kapitalisme, maka etika agama Islam tidak mengarah pada Kapitalisme maupun Sosialisme.

Islam memandang dunia ini bukan sebagai sesuatu yang hina dan harus dihindari, tapi Islam mengajarkan kepada pemeluknya agar bisa manfaatkan dunia ini dengan baik sebagai bekal menuju kehidupan kekal (al-dunya mazra’at al-akhirah). Al-Quran dan Al-Hadits sebagai sumber rujukan utama umat Islam banyak memberikan penjelasan tentang bagaimana sikap terbaik yang harus dilakukan dalam kehidupan dunia ini. Tidak ada satu pun ajaran Islam yang menganjurkan umatnya untuk menjadi pengemis, pemalas, miskin atau perbuatan hina semacamnya. Islam menekankan agar menjadi orang yang memberi, bukan yang meminta; membayar zakat, bukan yang menerima zakat; memberi infak (sedekah), bukan yang menerima infak/sedekah; dermawan, bukan kikir; berlapang, bukan yang sempit; berbuat adil bukan yang menderita; melepaskan perbudakan, bukan untuk menjadi budak dan lain sebagainya. Namun untuk melakukan itu semua tentu harus memiliki harta yang lebih dari cukup (al-yad al-’ulya), bukan orang-orang yang miskin (al-yad al-supla).

Memang ada hadist yang memberikan legitimasi, bahwa umat Islam tidak perlu mengurusi urusan keduniaan, seperti hadits al dunya sijn al mu’minin wa jannat al kafirin. Kebenaran hadits ini perlu dikritisi. Sebab maknanya bertentangan dengan ajaran Islam pada umumnya. Karena itu, hadits ini harus kita tinggalkan agar tidak disalah pahami. Ada juga hadist lain, yaitu ”Ya Allah, hidupkanlah saya miskin, matikanlah saya miskin, matikanlah saya miskin dan bangkitkanlah saya dalam golongan miskin” (allahumma ahyini miskinan wa amitni miskinan wa uhsyurni fi zumrat al masakin). Meskipun hadits ini dianggap shahih, namun jika dimaknai secara harfiah, akan bertentangan dengan fakta sejarah tentang kehidupan Nabi Muhammad SAW. Kehidupan Nabi Muhammad SAW sendiri tidak miskin atau serba kekurangan harta. Dalam catatan sejarah, makanan beliau, kendaraan beliau, pakaian beliau tergolong kelas atas. Hadits ini juga bertentangan dengan doa Nabi Muhammad SAW yang lainnya, ”Ya Allah, sesungguhnya aku memohon perlindungan-Mu dari kekufuran dan kefakiran” (allahumma inni a’udzubika min al kufr wa al faqr).

Selain memberikan kebebasan kepada pemeluknya untuk melakukan usaha (bisnis), Islam juga memberikan beberapa prisip dasar yang menjadi etika normatif yang harus dita’ati ketika seorang muslim akan dan sedang menjalankan usaha. Beberapa prisnsip di bawah inilah yang akan sangat jelas membedakan antara prinsip ekonomi islam dengan prinsip kapitalisme dan sosialisme.

Pertama, proses mencari rizki bagi seorang muslim merupakan suatu tugas wajib. Hal ini sesuai dengan sabda Rosulullah Saw bahwa ”Berusaha untuk mendapatkan penghasilan halal merupakan sebuah kewajiban, disamping tugas-tugas lain yang diwajibkan” (HR Al Baihaki). Dalam kaidah ushul fiqh definisi wajib adalah ”huwa ma yusabu ala filihi wayu’aqobu ala tarkihi” artinya sesuatu yang akan menjadikan berdosa ketika kita dengan sengaja tidak melakukannya. Dalam surat At taubah ayat 105 ”Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rosul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu”.

Kedua, rizki yang kita cari haruslah rizki yang halal. ”Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba” (QS Al Baqarah ayat 275). Dengan sangat tegas nabi Muhammad Saw, sebagaimana diriwayatkan oleh Jabir, pernah bersabda, ”Daging yang tumbuh dari suatu yang haram tidak akan masuk surga, sedangkan neraka lebih sesuai bagi semua daging yang tumbuh dari sesuatu yang haram”.

Ketiga, disamping itu kejujuran dalam menjalankan usaha menjadi suatu keharusan. Abu Sa’ad meriwayatkan bahwa Rosulullah Saw berkata , ”Pedagang yang jujur dan dapat dipercaya akan dimasukkan dalam golongan para nabi, orang-orang jujur dan para syuhada” (HR Tirmidzi). Sehingga segala bentuk ketidak adilan dan ketidak jujuran dalam bisnis sangat tidak bisa ditolelir (diharamkan) oleh ajaran Islam.

Keempat, semua proses yang dilakukan dalam rangka mencari rizki, haruslah dijadikan sebagai sebuah sarana untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ridho Allah merupakan tujuan utama dari aktifitas bisnis kita. Dengan prinsip ini, Islam mengajarkan kepada pemeluknya bahwa keuntungan berupa materi (harta dan kekayaan) bukan menjadi target utama dari usaha/pekerjaan yang kita jalankan. Keutungan berupa materi hanya salah satu dari karunia yang akan Allah berikan. ”Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu dimuka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung” (QS Al Jumu’ah ayat 10).

Kelima, bisnis yang akan dan sedang dijalankan jangan sampai menimbulkan kerusakan terhadap lingkungan hidup. Aspek kesinambungan dan keselarasan dengan alam menjadi suatu keharusan. Islam memberikan keistimewaan bagi manusia untuk menjadi khalifah di alam dunia ini. Sehingga sebagai khalifah yang amanah kita harus bisa mengatur kehidupan ini agar bisa lebih berkeadilan tidak hanya untuk manusia tapi juga terhadap semua makhluk Allah yang lainnya termasuk terhadap lingkungan. Harus ada perubahan paradigma bahwa seluruh kekeyaan alam ini bukan merupakan warisan dari nenek moyang kita, yang bisa dengan bebas kita pergunakan atau bahkan dihabiskan dengan seenaknya, tapi kekeyaan alam ini merupakan titipan dari anak cucu kita. Dengan kerangka fikir seperti ini maka kita dituntut untuk lebih arif dan bijaksana dalam mengelolanya karena suatu saat titipan tersebut harus dikembalikan kepada yang punyanya. Masih ada anak cucu kita yang akan meneruskan kehidupan di muka bumi ini.

Keenam, persaingan dalam bisnis bukan menjadi perso’alan yang tabu, tapi justru persaingan dijadikan sebagai sarana untuk bisa berprestasi secara fair dan sehat (fastabikul al khayrat). Kalau Allah tidak menghendaki adanya persaingan, maka tentu Allah tidak akan menciptakan kita dalam beragam kultur, etnis dan budaya yang berbeda. Adanya persaingan justru harus bisa memacu umat Islam untuk menjadi umat yang terbaik (khairu ummat). Saingan atau lawan dalam dunia bisnis bisa dijadikan sebagai partner bagi kita untuk memicu dan mendorong kita agar menjadi manusia-manusia yang kreatif yang terus berinovasi untuk mengeluarkan produk-produk baru.

Ketujuh, dalam menjalankan bisnis kita tidak boleh berpuas diri dengan apa yang sudah didapatkan. Islam mendorong pemeluknya untuk menjadi manusia-manusia yang tidak pernah puas dengan apa yang telah dicapai dan selalu haus akan adanya penemuan-penemuan baru. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat Alam Nasyrah ayat 7 ”Apabila kamu telah selesai dari suatu urusan, maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain”.

Kedelapan, menyerahkan setiap amanah kepada ahlinya, bukan kepada sembarang orang, sekalipun keluarga sendiri. Rosulullah Saw berkata, ”Jika suatu urusan diserahkan kepada (orang) yang bukan ahlinya, tunggulah saat kehancurannya”. Dari hadist ini menunjukan harus adanya prinsip profesionalisme kerja dalam Islam. Dalam surat An Nisa ayat 58, Allah SWT berfirman ”Sesungguhnya Allah memerintahkan kepada kamu untuk menyerahkan amanat kepada ahlinya dan jika kamu memutuskan suatu perkaran diantara manusia, hendaknya kamu putuskan dengan adil”.

Ketika dalam perjalanan usahanya membawa keuntungan berupa materi (sukses) maka dengan sangat indah Islam juga memberikan beberapa tuntunan.

Pertama, keuntungan yang kita dapatkan tidak semata-mata karena hasil kerja keras kita saja, namun kesemuanya itu tidak terlepas dari adanya bentuk pertolongan yang sudah diberikan Allah SWT kepada kita. Bagi setiap pengusaha muslim yang sukses dalam bisnisnya tidak diperbolehkan untuk merasa sombong dengan hasil yang sudah diperolehnya itu. Seorang muslim harus bersyukur kepada Allah SWT atas rizki yang telah dia dapatkan tersebut. Bahkan Allah SWT berjanji dalam surat Ibrahim ayat 7 ”Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah nikmat kepada kamu. Dan jika kamu mengingkari nikmatku, maka sesungguhnya azabku sangat pedih”. Menurut Imam Al Ghazali, ketika kita bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah SWT maka Allah akan memberikan dua manfa’at ; 1) Ketika kita bersyukur, maka keuntungan yang telah didapatkan akan diikat oleh Allah SWT, rizki yang telah kita dapatkan tidak akan pergi dari kita. 2) Ketika kita bersyukur, maka Allah SWT akan terus melipatgandakan keuntungan yang telah kita dapatkan tersebut.

Kedua, dalam setiap keuntungan yang kita dapatkan, terdapat hak-hak orang lain. ”Sesungguhnya pada hartamu ada bagian untuk orang lain” (Q.S. Adz-Dzaariyat: 19). Caranya bisa dalam bentuk mengeluarkan zakat, infak atau sodaqoh. Dalam hal ini Islam mencoba mengajarkan kepada pemeluknya bahwa ketika suskes jangan lupa untuk bisa berbagi dengan orang lain yang mungkin nasibnya tidak seberuntung kita. Sehingga rasa kekeluargaan dan kebersamaan antar anggota masyarakat bisa terus terjalin dengan baik. Ada sebuah pameo dalam bahasa inggris yang sangat sesuai dengan konsep anjuran dan keutama’an dari bersedekah bahwa ”if you give one, you will get more” jika kita memberi satu maka kita akan mendapatkan lebih dari apa yang telah kita keluarkan.

Ketiga, suksesnya bisnis kita pasti juga ditunjang oleh hasil kerja keras sebuah tim/karyawan. Praktek-praktek eksploitasi dan kesewenang-wenangan pemilik bisnis terhadap karyawan dengan melakukan jam kerja yang tidak manusiawi, upah yang sangat rendah, PHK yang sepihak, jaminan kesehatan yang minim sampai kepada tidak adanya jaminan kepatian kerja sangat dijauhi oleh Islam. Islam justru sangat menekankan pentingnya untuk berterimaksih kepada mereka. Dalam salah satu hadistnya, ”Rasulullah mengajarkan kepada kita untuk membayarkan upah kepada karyawan, sebelum keringat mereka mengering”.

Oleh MUHAMMAD ASEP ZAELANI
Mantan Santri Karya Pesantren Daarut Tauhiid (DT) Bandung

Selasa, 10 Juni 2008

Bisnis dan Keyakinan

Memulai berbisnis, selain butuh modal dalam bentuk uang, juga memerlukan satu hal penting lain; keyakinan. Kenapa? Jelas karena untuk masuk wilayah abu-abu ini diperlukan perencanaan yang matang dan kesiapan untuk antisipasi atas segala resiko atau kemungkinan2 terburuk nantinya. Nah, bagi mereka yang telah mantap dan yakni 100% dengan usaha bisnisnya, ane acungkan 2 jempol dech.. Y!!!

Kamis, 05 Juni 2008

Kenapa Berbisnis ?

Dalam surat Ash Shaff ayat2 terakhir dikatakan bahwa Allah akan membeli harta dan jiwa kita, yaitu bagi siapa saja yang telah merelakan harta dan jiwanya untuk Dien ini semata.
Yang lain, kebanyak masuk ke dunia bisnis karena memang hobby-nya disana, atau karena warisan genetik dari orang tuanya. Tapi ada juga lho yang terjun ke dunia ini tanpa disengaja, dalam aryian ia menekuni dunia bisnis karena memang 'kepepet' setelah mencoba mnekeuni dunia pekerjaan yang lain, namun belum berhasil juga.
Berbeda halnya bagi mereka yang telah menjadi pekerja, baik dibirokrasi pemerintahan maupun di sektor swasta, mereka menjadi pebisnis lebih banyak disebabkan faktor ke-kurangpuas-an dengan pekerjaan sebelumnya. Atau bisa juga karena menginginkan penghasilan tambahan, sehingga dana anggaran keluarga menjadi semakin aman.
Nah, apa alasan anda memasuki dunia baru ini?